Kajian Ustadz Irfan Helmi, SS, ME. (MUI Pusat) - DKM AL HIJRAH PH6 : DKM AL HIJRAH PH6

Kajian Ustadz Irfan Helmi, SS, ME. (MUI Pusat)

February 11, 2018

HAK BERTETANGGA DAN ETIKA BERMASYARAKAT

Irfan Helmi, SS, ME

Ahad, 11 Februari 2018
25 Jumadal Ula 1439 H
Masjid Al Hijrah
Puri Harmoni 6, Desa Situsari,
Kec Cileungsi, Kab Bogor

 

Batasan Tetangga

  • Para ulama berselisih pendapat tentang batasan tetangga. Sebagian mengatakan tetangga adalah ‘orang-orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi’, 10 rumah dari tiap sisi’ dan beberapa pendapat lainnya. (Lihat Fathul Baari, 10 / 367)
  • Syaikh Al Albani berkata: “Semua riwayat dari Nabi yang berbicara mengenai batasan tetangga adalah lemah tidak ada yang shahih. Maka zhahirnya, pembatasan yang benar adalah berdasarkan‘urf” (Silsilah Ahadits Dha’ifah, 1/446).
  • Sebagaimana kaidah fiqhiyyah yang berbunyi al ‘urfu haddu maa lam yuhaddidu bihi asy syar’u (adat kebiasaan adalah pembatas bagi hal-hal yang tidak dibatasi oleh syariat). Sehingga, yang tergolong tetangga bagi kita adalah setiap orang yang menurut adat kebiasaan setempat dianggap sebagai tetangga kita.

Tiga Macam Tetangga

  1. Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat.
    • Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.
  2. Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan.
    • Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
  3. Tetangga non-muslim.
    • Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.

(Lihat Tabshirah Al-Anam bi Al-Huquq fi Al-Islam, Syaikh Abu Islam hlm 145)

Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-Nisaa’: 36)

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir dua jenis tetangga ini: “Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al jaar dzil qurbaa adalah tetangga yang masih ada hubungan kekerabatan dan al jaar al junub adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan”. Beliau juga menjelaskan: “Dan Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf Al Bikali bahwa al jaar dzil qurbaa adalah muslim dan al jaar al junub adalah Yahudi dan Nasrani” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/298).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seseorang mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan perbuatan” (Tafsir As Sa’di 1/177)

Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga bersabda:

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ

Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi no 1944, Abu Daud 9/156, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash Shahihahno 103)

Ancaman Atas Berbuat Buruk Kepada Tetangga

  1. Dinafikan keimanannya
    • وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
    • “Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Beliau ditanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya” (HR. Bukhari no 6016, Muslim no 46)
    • Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan:Bawa’iq maksudnya culas, khianat, zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia bukanlah seorang mukmin. Jika itu juga dilakukan dalam perbuatan, maka lebih parah lagi.
      Hadits ini juga dalil larangan berbuat jahat kepada tetangga, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dalam bentuk perkataan, yaitu tetangga mendengar hal-hal yang membuatnya terganggu dan resah.
      Jadi, haram hukumnya mengganggu tetangga dengan segala bentuk gangguan. Jika seseorang melakukannya, maka ia bukan seorang mukmin, dalam artian ia tidak memiliki sifat sebagaimana sifat orang mukmin dalam masalah ini (Syarah Riyadhus Shalihin, 3/178)
  2. Pelakunya diancam dengan neraka
    • Dari Abu Hurairah berkata, Seseorang bertanya: Ya Rasulullah, Fulanah sering shalat malam, puasa sunah dan bersedekah. Namun lisannya suka menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda:
      لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ فِي النَّارِ
      Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka (HR. Ahmad 2/440 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no 7385, dishahihkan syaikh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad no 88)
    • Ali Al-Qari menjelaskan mengapa wanita tersebut dikatakan masuk neraka: “Disebabkan ia mengamalkan amalan sunnah yang boleh ditinggalkan, namun ia malah mengganggu tetangga yang hukumnya haram dalam Islam” (Mirqatul Mafatih, 8/3126).
  3. Pelakunya Halal untuk  Dicela
    • Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ menceritakan: Ada seorang yang mengadu kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang kezaliman yang dilakukan tetangganya. Setiap kali orang ini mengadu, selalu dinasihatkan oleh beliau untuk bersabar. Ini dilakukan sampai tiga kali. Sampai pengaduan yang keempat, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memberikan solusi,
      اطْرَحْ مَتَاعَكَ فِيْ الطَّرِيقِ
      Letakkan semua barang rumahmu di pinggir jalan.”  Orang inipun melakukannya. Setiap ada orang yang melewati orang ini, mereka bertanya: “Apa yang terjadi denganmu. (sampai kamu keluarkan isi rumahmu).” Dia menjawab: “Tetanggaku menggangguku.” Mendengar jawaban ini, setiap orang yang lewat pun mengucapkan: “Semoga Allah melaknatnya!” sampai akhirnya tetangga pengganggu itu datang, dia mengiba: “Masukkan kembali barangmu. Demi Allah, saya tidak akan mengganggumu selamanya.” (HR. Ibnu Hibban no 520 dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad)
  4. Menyakiti Tetangga Dosanya Berlipat Ganda
    • Dari Miqdad bin Aswad رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
      لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ
      “Seseorang yang berzina dengan 10 wanita, dosanya lebih ringan dibandingkan dia berzina dengan satu orang istri tetangganya. Seseorang yang mencuri 10 rumah, dosanya lebih ringan dibandingkan dia mencuri satu rumah tetangganya.” (HR. Ahmad, dishahih-kan syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no 65)

Kedudukan Tetangga Dalam Islam

  1. Tetangga Menjadi Lambang Kebahagiaan atau Kesengsaraan Seorang Hamba.
    • أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ؛ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ السُّوْءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ
      Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Mawarid Al-Zham’an no 1033)
  2. Sengketa Pertama yang akan Diadili pada Hari Kiamat Adalah Sengketa Antar Tetangga.
    • Dari Uqbah bin Amir, Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :
      أَوَّلُ خَصْمَيْنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جَارَانِ
      Sengketa antara dua orang yang pertama diputuskan pada hari kiamat adalah sengketa dua orang bertetangga. (HR. Ahmad, Shahih Al-Jami’ no 2563)
  3. Tetangga Menjadi Saksi Atas Baik atau Buruknya Seseorang.
    • Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
      إِذَا قَالَ جِيرَانُكَ: قَدْ أَحْسَنْتَ، فَقَدْ أَحْسَنْتَ، وَإِذَا قَالُوا: إِنَّكَ قَدْ أَسَأْتَ، فَقَدْ أَسَأْتَ
      “Jika tetanggamu berkomentar, kamu orang baik maka berarti engkau orang baik. Sementara jika mereka berkomentar, engkau orang tidak baik, berarti kamu tidak baik.” (HR. Ahmad no 3808, Ibnu Majah no 4223 dan dishahihkan Al-Albani, Shahih Al-Jami’ no 610)
  4. Menyakiti Tetangga Salah Satu Penyebab Seseorang Masuk Neraka.
    • Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
      عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِيْ النَّارِ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِيْ الْجَنَّةِ
      Dari Abu Hurairah beliau berkata seseorang telah bertanya kepada Rasulullah: fulanah diceritakan memiliki shalat, puasa dan shodaqoh yang banyak, tetapi dia mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab: dia di neraka. Lalau bertanya lagi: wahai Rasulullah si fulanah diceritakan memiliki puasa dan shodaqoh serta shalat sedikit. Dia bershodaqoh sedikit dari tepung gandum dan tidak mengganggu tetangganya dengan lisannya. Beliau menjawab dia di syurga. (HR Ahmad 2/440, shahih. LihatHuquq alJaar Fi Shahih AsSunnah wal Atsarkarya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hal. 31)
  5. Berbuat Baik kepada Tetangga adalah Wasiat Malaikat Jibril kepada Nabi.
    • Dari ‘Aisyah, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :
      مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
      “Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya.” (HR. Bukhari no 6014 dan Muslim no 2624).
    • Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Bukan berarti dalam hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga karena Jibril tidak memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah beliau sampai mengira bahwa akan turun wahyu yang mensyariatkan tetangga mendapat bagian waris. Ini menunjukkan betapa ditekankannya wasiat Jibril tersebut kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” (Syarah Riyadhus Shalihin, 3/177)
    • Al ‘Aini berkata: “Kata al jaar (tetangga) di sini mencakup muslim, kafir, ahli ibadah, orang fasiq, orang jujur, orang jahat, orang pendatang, orang asli pribumi, orang yang memberi manfaaat, orang yang suka mengganggu, karib kerabat, orang asing, baik yang dekat rumahnya atau agak jauh” (Umdatul Qaari, 22/108)
    • Abdullah bin ‘Amr Al-Ash pernah menyembelih seekor kambing. Lalu beliau berkata kepada seorang pemuda: “Aku akan hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi”. Pemuda tadi berkata: “Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?”. Ya! Aku pernah mendengar Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris.” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad78/105, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad)
  6. Berbuat Baik kepada Tetangga Merupakan Indikasi Keimanan Seseorang
    • Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda
      مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
      Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tetangganya” (HR. Bukhari no 5589, Muslim no 70)
  7. Berlindung dari Tetangga yang  Buruk.
    • Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
      تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارِ السَّوْءِ فِيْ دَارِ الْمُقَامِ
      “Mintalah perlindungan kepada Allah dari tetangga yang buruk di tempat tinggal menetap.” (HR. Nasa’i no 5502 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no 2967).
      اَللَّهُـمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْـمُقَامَةِ، فَإِنَّ جَارَ الْبَـادِيَةِ يَتَحَوَّلُ
      Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jahat di tempat tinggal tetapku, karena tetangga orang-orang Badui itu berpindah-pindah. (HR. Al-Hakim 1/532 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih alJami’ no. 1290)

Hak-hak Tetangga

  1. Memuliakan dan berbuat baik kepada tetanggaمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ
    Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya. (HR. Muslim no 47)
  2. Meringankan beban dan kesulitan tetangga
    مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِيْ حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
    Barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang meringankan seorang mukmin satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan ringankan untuknya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan Hari Kiamat. (Muttafaq ‘alaih)
  3. Sabar dalam menghadapi gangguan tetangga.
    ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ رَجُلٌ غَزَا فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَقِيَ الْعَدُوَّ مُجَاهِدًا مُحْتَسِبًا فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ وَرَجُلٌ لَهُ جَارٌ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ بِمَوْتٍ وَرَجُلٌ يَكُونُ مَعَ قَوْمٍ فَيَسِيرُونَ حَتَّى يَشُقَّ عَلَيْهِمُ الْكَرَى أَوِ النُّعَاسُ فَيَنْزِلُونَ فِيْ آخِرِ اللَّيْلِ فَيَقُومُ إِلَى وُضُوئِهِ وَصَلَاتِهِ
    “Tiga orang yang Allah cintai: 1) Seorang yang berjumpa musuhnya dalam keadaan berjihad dan mengharap pahala Allah, lalu berperang sampai terbunuh. 2) Seseorang memiliki tetangga yang mengganggunya lalu ia sabar atas gangguan tersebut dan mengharap pahala Allah sampai Allah cukupkan dia dengan meninggal dunia. 3) Seseorang bersama satu kaum lalu berjalan sampai capai atau kantuk menyusahkan mereka, kemudian mereka berhenti di akhir malam, lalu dia bangkit berwudhu dan shalat.” (HR. Ahmad, shahih). Lihat Huquq alJaar Fi Shahih asSunnah wal Atsar, Syaikh Ali Hasan hlm 32
  4. Menutup aib tetangga
    وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ
    Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan Allah tutupi (aibnya) pada hari kiamat. (Muttafaq ‘alaih)
  5. Bersedekah kepada tetangga
    لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
    Bukanlah mukmin sejati, orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan. (HR. Al-Baihaqi, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no 5382)Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan:
    Dalam hadits ini terdapat dalil yang tegas, bahwa haram bagi orang yang kaya untuk membiarkan tetangganya dalam kondisi lapar. Karena itu, dia wajib memberikan makanan kepada tetangganya yang cukup untuk mengenyangkannya. Demikian pula dia wajib memberikan pakaian kepada tetangganya jika mereka tidak punya pakaian, dan seterusnya, berlaku untuk semua kebutuhan pokok tetangga. (Silsilah Ash-Shahihah, 1/280)
  6.  Mengutamakan tetangga yang pintu rumahnya paling dekat
    Aisyah radhiyallahu’anhaberkata, “Ya Rasulullah, saya memiliki dua tetangga lalu kepada siapa dari keduanya aku memberi hadiah?” Beliau menjawab:إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا
    Kepada yang pintunya paling dekat kepadamu. (HR. Al-Bukhari no 2259)

Etika Bermasyarakat

  • Rasulullah r bersabda :
    حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذاَ مَاتَ فَاتْـبَعْهُ
    Hak muslim terhadap sesama muslim itu ada enam:

    1. Jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam
    2. Jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya
    3. Jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat
    4. Jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah
    5. Jika ia sakit maka jenguklah
    6. Jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya. (HR. Muslim)

FAIDAH HADITS

  1. Menjawab salam hukumnya fardhu ain jika orang yang diucapkan salam sendirian, namun jika salam itu diucapkan kepada sekelompok orang maka cukup satu orang saja yang menjawabnya atau dijawab oleh beberapa orang.
  2. Wajibnya memenuhi undangan selama undangan tersebut bukan untuk perbuatan dosa dan maksiat.
  3. Ikhlas dalam memberikan nasehat kepada orang yang meminta nasehat hukumnya wajib. Dan bagi orang yang menasehati hendaklah tidak menasehati orang dengan nasehat yang menyelisihi kenyataan atau menyembunyikan ilmunya, selama tidak ada bahaya jika ilmu yang diketahui dia sampaikan kepada orang.
  4. Hukum tasymit (mendoakan orang yang bersin) dengan ucapan “Yarhamukallah” adalah wajib bagi setiap orang yang mendengar seorang muslim bersin kemudian mengucapkan “Alhamdullillah”.
  5. Mengunjungi orang yang sakit termasuk fardhu kifayah, karena itu akan meringankan sakitnya dan memberikan kebahagiaan kepadanya.
  6. Mengurus jenazah dan menshalatkannya serta menguburkannya hukumnya fardhu kifayah.